Butuh Perhatian Siti Nurhaliza Penderita Penyakit Hidrosefalus

  • Bagikan

SERGAI, Metro24Sumut.com |          Bayi penderita penyakit Hidrosefalus sejak lahir Siti Nurhaliza seorang anak yang berusia dua bulan warga Dusun II, Desa Paya Lombang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara, sangat butuh uluran tangan.

Diketahui penyakit Hidrosefalus ialah menumpuknya cairan di dalam rongga jauh di dalam otak. Kelebihan cairan menekan otak dan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi dan orang berusia lanjut.

Penyakit Hidrosefalus yang dialami Siti ini terjadi saat 36 hari setelah ia lahiran. Hal ini disampaikan oleh ibu Siti yang bernama Nurhayati (37) kepada wartawan saat menyambangi kediamannya.

“Anak saya menderita penyakit Hidrosefalus, awal mula sekitar 36 hari setelah lahiran, anak saya ini demam tinggi, buang air besar, dan muntah. Muntahnya ini setiap minum susu,” ungkap Nurhayati, Jumat (3/9/2021).

Nurhayati mengatakan, Anaknya ini kerap mengalami kejang-kejang, pada saat itu setiap empat hari sekali demam tinggi, kejang-kejang. Kemudian belakangan ini, kejang-kejangnya terjadi dua hari sekali, sempat juga satu hari sekali.

” Ini anak kedua saya, sementara ini anak saya dibantu dengan obat herbal. Jadi kalau anak saya ini kejang, saya kasih obat herbal itu, saya usapkan di kepalanya,” ujar Nurhayati.

Ia ucapkan Alhamdulillah saat ini sudah ada bantuan dari pemerintah setempat.

Informasi yang peroleh, Kepala Dinas Kesehatan Serdang Bedagai, dr Bulan Simanungkalit, dan bahkan Ketua DPRD Serdangbedagai, dr M Riski Ramadhan Hasibuan melalui video call, sudah berkomunikasi dengan orangtua Siti Nurhaliza untuk sesegar mungkin membantu proses penyembuhan penyakitnya.

“Harapan saya, semoga anak segera pulih seperti anak-anak yang normal lainnya. Kalau perasaan saya ini, bapak tau lah sendiri perasaan orangtua ini kan,” ucap Nurhayati.

Nurhayati bercerita kepada wartawan sewaktu ia mengandung, pada usia empat bulan Nurhayati mengidam dan suka mengkonsumsi makanan dan buah-buahan yang manis.

“Selama empat bulan itu, saya suka konsumsi makanan yang manis-manis. Setelah itu, makan juga kuat. Cuma ya itu doyannya suka yang manis-manis,” ujar Nurhayati.

Namun, setelah lewat empat bulan, Nurhayati sempat mengalami gejala sesak hingga usia kandungan sembilan bulan.

“Sesaknya itu sering, saya kan jualan, capek sikit sesak. Saat itu saya enggak periksakan ke dokter yang sakit sesak saya ini, cuma saya USG aja. Hasil USG saat itu, posisi bayi kepala di atas dan posisi kaki di bawah sampai proses lahiran,” kata Nurhayati.

Saat disinggung, sejak kapan betuk dan ukuran kepala Siti Nurhaliza mulai mengalami perubahan, Nurhayati menjelaskan pada saat ia bersama keluarga besarnya membuat kenduri lahiran anaknya ini.

“Saya lihat saat itu, kok tiba-tiba bentuk kepalanya berubah. Cuma enggak langsung besar. Saya langsung teringat sama yang di TV itu, kok sama kayaknya yang di TV itu,” imbuhnya Nurhayati.

Saat demam tinggi, Siti Nurhaliza tidak rewel seperti anak pada umumnya.

“Ini enggak rewel. Cuma anak saya ini harus dalam pelukan terus, seolah-olah enggak mau di lepas. Sampai saya tidur pun harus digendong. Cuma ini alhamdulillah belakangan ini, kalau diletakkan sudah mau,” ujar Nurhayati.

Nurhayati sehari-hari berjualan nasi sayur-sayur masakan. Sedangkan suaminya Sofian, juga ikut membantu istrinya menjalankan usahanya tersebut.

“Saya berharap anak saya ini cepat sembuh. Sejauh ini masih pengobatan herbal saja. Belum ada ke rumah sakit. Karena saat ini masih dalam pengurusan BPJS Kesehatan,” tutup Sofian.(*)

  • Bagikan