Ibu Kandung Menangis Histeris Putrinya Jadi Korban Cabul Tetangga, Kadis P2KBP3A Sergai berharap Terduga Pelaku Dilakukan Penahanan

  • Bagikan

SERGAI, Metro24Sumut.com |          Terkait kasus dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur inisial MA warga Kecamatan Teluk Mengkudu yang masih berusia sembilan tahun yang diduga dilakukan seorang oknum berprofesi guru honorer, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Sergai Dasril MKes saat dikonfirmasi wartawan membenarkan beliau mengatakan, dugaan kasus pencabulan anak usia 9 Tahun di Kecamatan Teluk Mengkudu saat ini sedang didampingi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), dibawah koordinasi Dinas P2KBP3A.

“Iya, kita sudah koordinasi dan mendampingi korban menyampaikan laporan ke unit PPA Polres Serdang Bedagai, kami dari Dinas P2KBP3A bersama dengan P2TP2A akan terus mendampingi pihak korban dari kasus dugaan pencabulan tersebut,”Demikian disampaikan Kadis P2KBP3A Dasril MKes melalui pesan WhatsApp kepada Wartawan. Selasa (7/9/2021) Sore hari.

Oleh karena itu, Kadis P2KBP3A Sergai berharap mudah-mudahan pelaku pencabulan tersebut agar segera dapat dilakukan penahanan oleh Polres Sergai.

“Sekarang kita sudah bekerjasama dan berkoordinasi dengan Unit PPA Polres Sergai terkait kasus pencabulan di Kecamatan Teluk Mengkudu,”tegas Dasril.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sergai AKP Deny Indrawan Lubis, S.I.K, M.Si dikonfirmasi Wartawan juga menyampaikan akan menindaklanjuti proses dugaan kasus pencabulan tersebut.

Sebelumnya, Aksi Dugaan pencabulan ini dialami seorang anak berinisial MA (9) warga, Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Sergai.

Selanjutnya, Informasi yang dihimpun Metro24Sumut.com,Aksi tak terpuji yang diduga dilakukan oknum guru honorer yang membuat Korban MA (9) trauma ini diduga  berinisial MS(39) yang tak lain tetangganya sendiri yang tinggal tak jauh dari rumah korban.

“Pertama kali kami dengar dugaan pencabulan ini dari kawan anak saya ini, pada tanggal 26 Juli 2021. Bahwa anak kami ini sering diraba- raba pada bagian dada sampai organ kemaluannya oleh terduga pelaku,” ujar ayah MA di dampingi ibu kandung korban yang menangis histeris mengingat peristiwa yang dialami putrinya,Selasa (7/9/2021) di kediamannya.

Ayah korban mengatakan, terduga pelaku terakhir melakukan dugaan pencabulan terhadap korban MA pada 24 Juli 2021.

“Saat kami tanyakan sama anak kami, anak kami ini mengakuinya. Saya tanyakan di apainya , diremas-remas dan diraba-raba serta dipegang kemaluannya. Tapi itu anak kami ini takut bilang sama ibunya,” bilang ayah korban.

Menurut Ayah korban putrinya
mengatakan bahwa MA diraba raba dadanya dan juga kemaluannya oleh terduga pelaku. Bahkan MA pernah dibawa ke kamar, dan direbahkan terus putri saya lari karena takut. Terduga pelaku ini melakukan aksinya di rumahnya sendiri, jelasnya.

Saat mengetahui kejadian tersebut, selanjutnya ayah dan ibu korban kemudian melaporkan ke kepala dusun.

“Kami, sempat dilakukan mediasi ke kantor desa pada Rabu, 28 Juli 2021. Terduga pelaku mengaku dan tidak sengaja dan merasa khilaf saat di mediasi,” ujar MA(39) Ayah Kandung korban.

Merasa bersalah, terduga pelaku bersama istrinya juga sempat menyembah dan minta maaf kepada orang tua korban,sambung Ayah korban.

Namun, orang tua korban tetap akan melanjutkan kasus ini ke jalur hukum agar perbuatan asusila yang dilakukannya tidak terulang kembali dan kawatir ada korban anak yang lainnya.

Setelah mediasi tersebut, orang tua korban langsung mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sergai sesuai Laporan Polisi nomor: LP/B/505/VII/2021/SPKT/POLRES SERGAI/POLDA SUMUT Sergai tanggal 30 Juli 2021, tentang dugaan tindak pidana melakukan perbuatan cabul terhadap anak.

Pada tanggal 2 Agustus 2021, orang tua korban menerima surat perihal Pemberitahuan Perkembangan hasil penelitian laporan sesuai nomor: B/505/VIII/RES.1.24/2021.

“Sering dipanggil ke Polres Sergai saat mendengarkan para saksi, namun mereka semua bantah bahwa tindakan asusila tidak benar. Terduga pelaku sering dipanggil dan sekali mangkir karena alasan ayahnya sakit, padahal ada di rumah,” ujar ayah korban.

Sementara itu,ayah korban menyatakan bahwa putrinya sejak kejadian dugaan pencabulan tersebut mengalami trauma psikis. Walaupun dalam hasil visum memang tidak mengalami kerusakan pada alat vital.

“Hingga kasus ini di laporkan terduga pelaku menggunakan jasa oknum pengacara. Tapi kami butuh keadilan, dan dia udah bersalah harus diusut tuntas sesuai hukum dan undang- undang yang berlaku di Indonesia agar tak ada lagi korban yang lainnya.Karena kami menduga korban lebih dari satu, kami khawatir bila yang terduga pelaku tidak di proses hukum akan ada korban selanjutnya,” tutup MA ayah korban.(*)

 

  • Bagikan