Polrestabes Medan Ungkap 6 Pelaku Pembunuh HS, Keluarga Korban: Masih banyak Fakta yang Ditutupi

  • Bagikan

Medan, Metro24sumut.com

Keluarga korban tewas dalam tahanan Polrestabes Medan, HS (50) warga Tanjung Anom mensesalkan cara kerja polisi dalam proses penyidikan kematian HS yang tewas sesaat setelah dirawat dirumah sakit Bhayangkara Medan pada Rabu (24/11/21) dini hari.
Selain menduga adanya peran keterlibatan oknum penyidik, keluarga turut menduga adanya fakta: fakta yang disembunyikan Satreskrim Polrestabes Medan dalam mengungkap kebenaran kejadian yang menimpa HS hingga terluka parah dan tewas.
“Saya hanya meminta Kasatreskrim Polrestabes Medan untuk jujur mengungkap fakta Kematian saudara saya” ujar Herman dikediamannya di perumahan Tasbi Medan. Jumat (26/11/21)
Selain itu, ada bukti-bukti atau petunjuk atas keterlibatan oknum penyidik selama 12 hari HS diproses sebagai terlapor dugaan pencabulan anak di UPPA Satreskrim Polrestabes Medan sejak ditahan pada 12 Nopember 2021.
” Beberapa kejadian yang dialami saudara saya, saya rekam dan bukti- bukti permintaan uang juga ada” ungkapnya.
Hal yang paling disesalkan keluarga atas kematian korban adalah HS masih berstatus tersangka yang dipersangkakan dengan tidak terpenuhinya alat bukti dan keterangan saksi.
” Kanit PPA mengakui bahwa dalam perkara saudara saya pelapor belum menyerahkan bukti, namun sangat disayangkan suadara saya tewas begitu saja tanpa ada perlindungan dari petugas kepolisian didalam sel” kata Herman lagi.
Didampingi saudaranya yang lain, Herman turut menyayangkan adanya oknum petugas kepolisian yang turut terlibat atas proses penganiayaan HS di dalam sel, baik terlibat secara langsung atau pun tidak langsung.
” Pastinya penganiayaan itu menimbulkan keributan didalam sel, dan pasti korban akan teriak keras meminta tolong, tapi mengapa tak ada tindakan dan pengawasan petugas jaga dan biasanya sel tahanan ada cctv, dari cctv pasti lah ketahuan siapa- siapa saja yang terlibat berikut benda- benda apa saja yang digunakan para tersangka untuk menghabisi nyawa korban” imbuhnya.
Masih menurut Herman, soal 6 tahanan pelaku penganiaya HS masih belum cukup mengungkap kebenaran atas kematian saudaranya.
“Apalagi, Polrestabes Medan, melaksanakan konfrensi pers terhadap 6 orang pelaku tidak menghadirkan atau melakukan pemberitahuan kepada keluarga kami, ada apa? Kami mencurigai adanya upaya menutupi fakta- fakta lain dalam kasus kematian saudara saya” sesal Herman.
Sebagaimana menurutnya hal itu juga terjadi dalam setiap keterangan pers yang disampaikan Kasatreskrim Polrestabes Medan, Muhammad Firdaus kepada wartawan terkait penyebab kematian korban yang keterangannya berbeda beda, seperti korban HS meninggal karena sakit demam tanpa menjelaskan kebenaran atas kondisi fisik korban yang lebam- lebam dan penuh luka dibeberapa mass media sebelumnya.

Sementara itu ditempat terpisah, Polrestabes Medan dipimpin Wakapolrestabes Medan AKBP Irsan Sinuhaji, S.I.K., M.H., melaksanakan Konferensi Pers terkait kematian HS dengan 6 tersangka pelaku pembunuhan, Jumat (26/11/21) siang.
Dalam konferensi pers itu Wakapolres didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Medan Kompol Muhammad Firdaus memaparkan perkara terkait tewasnya HS di sel tahanan Reskrim Polrestabes Medan kasus Tindak Pidana Penganiayaan secara bersama sama melakukan Penganiayaan mengakibatkan Orang Meninggal Dunia.

Dikatakan Irsan Sinuhaji, tahanan Unit PPA Sat Reskrim Polrestabes Medan bernama Hendra Syahputra inisial (HS) meninggal dunia di ruang ICU RS. Bhayangkara TK II Medan pada Selasa (23/11/2021). Sebelumnya, pada hari yang sama pukul 03.00 Wib, anggota jaga tahanan RTP Polrestabes Medan membawa korban dalam keadaan lemas dan juga demam tinggi.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Medan, Kompol Muhammad Firdaus menetapkan 6 tahanan yang melakukan penganiayaan terhadap korban.
“Hasil penyelidikan (pelakunya) tahanan satu sel korban yang melakukan penganiayaan, jumlahnya ada 6 orang,” sebut Firdaus.

Pihak RS. Bhayangkara TK II melakukan autopsi terhadap korban karena ditemukan beberapa titik lebam biru di wajah serta memar di sekujur tubuhnya. Tim penyelidik mendapat informasi dari keluarga korban bahwa selama ini korban sering dianiaya dan diperas oleh tahanan lainnya. Para pelaku melakukan pemerasan terhadap korban dengan cara menelepon keluarga korban, kemudian meminta untuk mengirimkan sejumlah uang.

Keenam pelaku penyiksaan itu yakni, TS alias R (35) warga Jl. STM, Kec. Medan Johor (tahanan kasus pencurian dengan pemberatan), WS alias AK (20) warga Jl. Mayor, Pulo Brayan Kota, Kec. Medan Barat (tahanan kasus secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang), J (25) warga Perumnas Mandala, Kec. Medan Denai (tahanan kasus pencabulan).

Kemudian, NP (21) warga Jl. Aluminium Gg. Jambu, Kec. Medan Timur (tahanan kasus penggelapan), HS (45) warga Jl. Tiga No. 44 C, Kel. Pulo Brayan Bengkel, Kec. Medan Timur (tahanan kasus pertolongan jahat/ tadah) dan HM (44) warga Jl. Danau Marsabut No.148, Kel. Sei Agul, Kec. Medan Barat (tahanan kasus pertolongan jahat/ tadah). Keenam pelaku merupakan buser (orang yang juga tahanan mengatur tahanan lain di dalam sel) dan pembantu buser di sel tahanan yang ditempati korban.

Korban masuk ke dalam sel tahanan blok G di RTP Polrestabes Medan. (12/11/2021) dan disambut oleh pelaku. Dimana pada saat itu TS, HM dan HS langsung menemui pelaku dan meminta uang kebersamaan sebesar Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah).
Pelaku menyuruh korban untuk menghubungi keluarganya karena korban tidak memiliki uang. Lalu di hari kedua keluarga korban tidak juga memberikan uang kamar, dilakukanlah pemukulan terhadap korban. Pada Senin, 22 November 2021 sekira pukul 18.30 wib Firman Efendi melihat pelaku memukuli korban berkali-kali dan sesekali memukul dengan bola karet ke arah wajah korban.
Korban kembali mendapat pemukulan dengan menggunakan asbak dan kemudian sekira pukul 03.00 korban sudah ditemukan kejang-kejang dan dibawa ke rumah sakit Bhayangkara.

Sebagai barang bukti, telah diamankan 1 Unit Handphone merek Oppo, 1 Unit Handphone merek Samsung, 3 buah bola karet, dan 1 buah Asbak. Akibatnya, keenam pelaku ini dijerat Pasal 170 JO 351 Ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.(Evi/tim)

  • Bagikan