Bantuan Lembu Kelompok Tani Tunas Harapan Desa Gunung Melayu Labura, Diduga Dijual Belikan

  • Bagikan

Labura, Metro24sumut.com | Kelompok Tani Tunas Harapan Dusun II Kampung Lalang Desa Gunung Melayu, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat kerjasama, baik di antara sesama petani disana, mau pun kelompoktani antar kelompok tani maupun dengan pihak lain, sehingga diharapkan usaha tani lebih efisien dan mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, serta lebih menguntungkan. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan tersebut.

Menurut pantauan dan hasil investigasi wartawan metro24sumut.com dilapangan banyak ketimpangan, dan ada dugaan penyalah gunaan bantuan yang mereka dapatkan di bulan September 2021 yang lalu atas pengajuan proposal mereka ke Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara untuk bisa mendapatkan bantuan disektor ternak lembu. Namun ironisnya, begitu lembu dapat diduga langsung di jual belikan, dan hasilnya dibagi-bagikan dengan anggota kelompok yang ada.

Untuk lebih mengetahui informasi lebih lanjut, wartawan menanyai beberapa orang yang mengaku anggota kelompok tani “Tunas Harapan” dan yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan, “kita telah mendapat bantuan lembu 10 ekor dari Provinsi, namun yang sampai kekelompok tani 6 ekor, bagaimana kalau diuangkan aja. Sehingga semua anggota tidak direpotkan lagi dalam hal perawatan lembu ini, dan tidak punya resiko,” cetus mereka memperagakan ucapan ketua belum lama ini.

Melihat dari pengakuan mereka, bahwa ada dugaan sebuah persekongkolan yang dibuat oleh Ketua Kelompok dan Pengawas Petani Lapangan (PPL) Desa Gunung Melayu dari Kecamatan, agar mereka mau menurutin dan mensetujui apa yang digagas oleh Ketua Kelompok, dengan iming-iming mendapat uang tunai, tak ada resiko dan masalah untuk merawat lembu bantuan Dinas Pertanian Provinsi tersebut.

Saat ditanyakan wartawan metro24sumut.com terkait mekanisme terbentuknya Kelompok Tani Tunas Harapan dusun II Kp. Lalang, Desa Gunnung Melayu, mereka menyatakan,”kami dimintai foto copy KTP, KK, dan uang Rp 50.000 agar bisa terbentu kelompok tani tersebut. Namun, sampai beberapa lama dimintai administrasi pembentukan kelompok tani, kami belum ada menerima sebuah SK atau kartu anggota yang menyatakan kami, anggota kelompok tani Tunas Harapan.” Mengungkapkan dengan kesal.

Jumlah anggota 30 orang dalam kelompok ini, dan mereka tidak bisa pungkiri memiliki kesibukan. Jadi mereka merasa ada baiknya menerima gagasan ketua kelompok tani yang seakan memperhatikan mereka, tapi mereka tidak memahami kalau sistem bantuan ini tidak dapat diperjual belikan. Hanya dipesankan jangan banyak cerita, apabila ada yang menanyai tentang bantuan lembu oleh ketua kelompok tani.

“Gagasan yang disampaikan kelompok tani pada akhirnya kami diterima. Dan masing-masing anggota mendapat uang tunai, dari hasil penjualan lembu yang seharga perekornya itu Rp 7500.000 dengan usia lembu 18 bulan pada saat itu. Sehingga rinci punya rincian, maka anggota mendapat sebesar Rp 950.000, dan sudah dipotong uang awal Ketua Kelompok untuk pembuatan kadang Rp 3000.000. dan uang transpot pengurus, dan Pengawas Petani Lapangan yang tidak tau persislah,” jelas mereka.

Disinggung mulai terbentuk kelompok tani, mereka tau persis kapan terbentuknya. Cuman mereka menyampaikan hanya sekali saja kumpul dan tidak pernah musyawarah rembuk kepengurusan dan membahas sistem mekanisme cara kerja dalam kelompok tani.

“Keanggota an 30 orang, kesemuanya itu tidaklah utuh. Karena dari anggota 30 orang anggota hanya yang ada 24 orang, mengingat 3 orang anggota sudah tinggal dan menetap diluar daerah, dan 1 orang keluar dari keanggotaan.” Tegas mereka.

Sebab mereka mengungkap lagi masalah perincian bantuan lembu yang tadinya 10 ekor dari Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara tersebut dianataranya, 2 ekor untuk pengurus di provinsi yang memuluskan urusan pengajuan yang diduga Oknum anggota DPRD Provinsi dari Fraksi Golkar daerah dapil Labuhanbatu, 2 ekor untuk Dinas Pertanian Kecamatan Kulauh Selatan, dan 6 ekor lah sampai pada anggota. Dan sistem ini pun membingungkan mereka.

Menanggapi hal ini, wartawan metro24sumut.com mengkonfirmasi Pengawas Pertanian Lapangan (PPL) Bustami Tambunan belum lama ini, melalui via telepon dia tidak menyangkal keberadaan bantuan lembu tersebut pada kelompok tani Tunas Harapan.

“Tidak ada penjualan lembu bantuan, adapun uang yang dimaksud untuk keperluan pengurus kesana kemari, dan uang ketua yang didahulukan dalam pembuatan kandang.” Ungkapnya.

Begitu saat cek lapangan atas keberadaan lembu bantuan dari provinsi tersebut, anehnya lagi yang yang ditemui wartawan metro24.sumut.com, bukan lah Ketua, atau PPL, melaikan langsung koordinator Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kualuh Selatan, yang kerap disapa Pak Agus yang juga mengatakan, “masalah lembu itu ada lengkap 10 ekor, mati 1 dan ini ada garansinya, dan sudah dilaporkan. Dan lembu yang mati ini nantinya akan akan diganti dalam waktu dekat,” ucapnya

Ditanya pada Pak Agus, terkait informasi yang diperoleh, dia menyangkal semua tanggapan itu. Dan mengatakan PPL pun disini kurang Faham, apalagi Pengurus dan anggota, bahwa dari Dinas Provinsi bantuan tersebut utuh tidak berkurang, dan kalau itu ada, itu hanya sebatas isu belaka.

Dilain waktu belum lama ini, wartawan metro24sumut.com mencek kembali keberadan lembu dikandangnya dan bertemu dengan penjaganya Saidi, didusun IIIB yang lumayan jauh dari dusun II tersebut namun masih satu Desa ia mengatakan,” lembu masih ada 9 ekor, namun 1 ekor bakal sudah mau mati, karena lobang pengkuburan lembu pun sudah kubuatkan. Dan yang mati kemarin pun belum ada gantinya sampai sekarang,” menyampaikan.

Saat ditanya wartawan mengapa bisa mengurusin lembu kelompok tani apakah ada dalam kepengurusan atau anggota kelompok tani.

“Saya tidak anggota, saya hanya disuruh menjagakan dengan bagi hasil anak oleh Pak Anto nama sapaan akrab Ketua Kelompok, “ tutupnya (TT)

  • Bagikan