Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, Prinsip Kehatian-hatian Pemberian Kredit Perbankan

  • Bagikan

Penulis

Awaluddin M.Siregar,ST,S.Pd,MP

Dosen Universitas Islam Labuhanbatu

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Prakerin SMKS Pemda Rantauprapat

 

Perbankan merupakan lembaga keuangan yang telah dipercaya oleh masyarakat sejak lama. Definisi Bank, menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan juga menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman/kredit dan atau bentuk lainnya.

Menyoal pinjaman atau kredit pada umumnya, bank dan Lembaga keuangan lainnya tergolong lebih “sensitif” atau sangat berhati-hati dalam mengelola aliran kredit yang akan diberikan kepada nasabah.

Salah satu wujud kesensitifan tersebut ditunjukkan lewat prinsip 5C bank, tetapi dalam Perbankan Mikro lebih di kenal dengan 3 C yang terdiri dari :

1. Character ( Karakter)

Prinsip ini dilihat dari segi kepribadian atau karakter calon peminjam / nasabah. Dengan cara Survey Lingkungan ( Trade Checking) dengan para tetangga ( Kepala Lingkungan, Warga sekitar dan tokoh masyarakat) dan tempat usaha nasabah, Hal ini akan dinilai dari hasil wawancara antara Analis Kredit dengan nasabah yang hendak mengajukan kredit dengan pertanyaan seputar latar belakang, kebiasaan hidup, pola hidup nasabah, dan lain-lain.

Inti dari prinsip Character ini ialah bank akan menilai calon peminjam tersebut apakah termasuk peminjam yang bisa dipercaya dalam menjalani kerjasama atau mendapatkan pinjaman bank.

Informasi yang berhubungan dengan karakter calon peminjam kini dikelola oleh Bank Indonesia dan dikenal dengan istilah Sistem Informasi Debitur (SID) atau proses BI Checking.

Informasi dalam SID adalah rapor kredit yang merekam setiap hal yang berhubungan dengan transaksi finansial seseorang, misalnya profil pembayaran tagihan apakah termasuk kategori bayar tepat waktu, selalu bayar cicilan minimum, atau melebihi batas waktu.

 

2.Capacity ( Kemampuan Bayar/ Usaha)

Yakni terkait akan kondisi aset dan kekayaan yang dimiliki calon peminjam, khususnya nasabah yang mempunyai sebuah usaha.

Contoh penilaian dari sisi pengusaha adalah seperti berapa besar saldo tabungan, deposito, atau aset investasi lainnya yang dimiliki calon peminjam.

Bagi pengusaha, maka faktor capital akan dinilai dari laporan tahunan perusahaan yang dikelola oleh nasabah, sehingga dari penilaian tersebut, pihak bank dapat menentukan layak atau tidaknya calon peminjam tersebut mendapat pinjaman, lalu seberapa besar bantuan kredit yang akan diberikan.

Bagi Pengusaha mikro di kenal dengan pembukuan catatan sederhana ( Bon Pembelian ) atau di kenal lagi dengan berapa omset 1 hari penjualan si pengusaha ( Berapa uang di laci Usaha ).

Dari sini si Analis Kredit akan menilai berapa sebenarnya yang layak di berikan pinjaman kepada si pengusaha, sehingga tidak terjadi over finance (Kelebihan pinjaman) atau side streaming ( Terjadi penyalah gunaan tujuan pinjaman).

Dimana dalam pinjaman untuk pengembangan usaha ada 2 tujuan pinjaman tersebut yaitu Pinjaman Kredit Investasi dan Pinjaman kredit Modal Kerja Usaha .

 

3.Collateral. ( Jaminan / Baik Benda Bergerak maupun benda tidak bergerak)

Umumnya, semakin besar nilai agunan atau jaminan yang diberikan untuk     pengajuan pinjaman maka akan semakin besar pula poin penilaiannya ( Pinjaman yang akan di berikan kepada si pegusaha ).

Prinsip ini perlu diperhatikan bagi para calon peminjam, sebab ketika mereka tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam mengembalikan pinjaman dari pihak bank.

Maka sesuai dengan ketentuan yang ada, pihak bank bisa saja menyita aset yang telah dijanjikan sebelumnya sebagai sebuah jaminan, dengan menggunakan lelang jaminan yang telah diatur oleh UU Hak Tanggungan No.4 tahun 1996 untuk benda tidak bergerak ( Kebun, Rumah, Hotel, Pulau, Pabrik dsbnya) dan UU Fidusia untuk benda yang bergerak seperti Mobil, Sepeda Motor, Pesawat Terbang, Kapal Laut.

Apraisal jaminan, untuk penilaian suatu jaminan ini harus memiliki kompetensi dalam menilai jaminan yang akan di berikan nasabah kepada Perbankan, Prinsip kehati-hatian harus di miliki oleh seorang appraisal Penilaian Bank, sehingga jika terjadi kredit macet maka jaminan tersebut laku di jual, dimana selalu terjadi pada kredit macet, pada penilaian jaminan ini selalu terjadi kesalahan penilaian appraisal sehingga jaminan tersebut sukar untuk di jual.

Kesimpulan :

Kredit Macet selalu terjadi jika :

  1. Over finance kapasitas ( Kelebihan Pinjaman), sehingga nasabah tidak memiliki kemampuan untuk membayar angsuran pinjaman.
  2. Side Streaming ( Penyalah gunaan tujuan pinjaman ), dimana tujuan pinjaman tersebut selalu di gunakan untuk Modal kerja usaha dan investasi usaha, tetapi di gunakan oleh nasabah untuk kebutuhan konsumtif (Poya-poya).
  3. Jaminan Tidak Laku di jual, Ini yang selalu terjadi pada bisnis perbankan mikro. Kurang prinsip kehati-hatian Apraisal jaminan di dalam menilai suatu jaminan, sehingga sukar jaminan tersebut untuk di jual, contoh Nilai Jaminan sebenarnya di Apraisal bernilai 300 juta tetapi di berikan pinjaman adalah 500 juta, sehingga jaminan tersebut tidak laku di jual. Dan selalu permasalahan ini terjadi dimana-mana pada bisnis perbankan mikro.
  • Bagikan