Berita  

Tidak Mau Tanda Tangani SKT, Diduga Kepala Desa Rombisan Persulit Warga

Labura, Metro24sumut.com| Kepala Desa Rombisan, Kacamatan Na IX-X, Tak Mau Tanda Tangani Surat Keterangan Tanah (SKT) warga, meski sudah memenuhi syarat dokumen untuk menerbitkan SKT tersebut.

Namun Kepala Desa Rombisan, Kecamatan Na IX – X, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara (Provsu-red), bukan menerbitkannya, malah syarat dokumen surat tanda jual beli warga ditahan olehnya selama Berbulan-bulan.

Penahanan dokumen jual beli warga, antara Rajali Siregar dengan Triana Susianti Harahap, oleh Kepala Desa sebagai syarat penerbitan SKT disebut – sebut, karena bukan pendukung Kades sewaktu Pilkades yang sudah berlalu, dan sampai ingin mencalonkan kembali sebagai Kades di Pilkades serentak 25 Mei 2022.

Hal inilah warga Desa Rombisan, Rajali Siregar, menduga kuat, bahwa Kepala Desa Rombisan, Rijal Sipahutar, tidak mau menanda tangani surat jual beli tanahnya dengan warga atas nama Triana Susianti Harahap, meski Kepala Dusun (Kadus) 1 Badarus salam, Desa Rombisan, Roma Pangaluan, dan beserta saksi jual beli kedua belah pihak sudah menanda tangani.

Rajali Siregar, saat menceritakan peristiwa penahanan dokumen penting dan sudah lengkap untuk syarat penerbitan SKT oleh Kepala Desa Rombisan, Rijal Sipahutar, meski pihak penjual Triana Susianti Harahap, membenarkan memang benar telah menjual tanah kebun sawitnya kurang lebih setengah hektar kepada Rajali Siregar, warga Desa Rombisan.

“Begini pak, saat jual beli saya dengan penjual tanah ini yang sudah cukup lama hampir setahun lamanya. Yang mana jual beli kami ini, sudah diketahui Kepala Dusun 1 Badarus salam, serta saksi-saksi kami kedua belah pihak sudah menanda tangani, namun dia, Kepala Desa tidak mau menanda tangani sampai sekarang, bahkan itu surat tanda jual beli kami itu masih ditahannya sudah cukup lama.” Cetus Rajali Siregar, Jum’at (22/4/2022)

Diwaktu dan tempat terpisah, Selasa (26/4)wartawan mengkonfirmasi Triana Susianti Harahap, yang sekarang bertempat tinggal di Dusun II, Desa Siamporik, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), untuk memastikan kebenaran adanya sebuah peristiwa jual beli sebidang tanah kebun sawit di Desa Rombisan, Kecamatan Na IX-X, antara dirinya dengan Rajali Siregar, dan dia mengatakan benar adanya, kejadian itu terjadi Oktober 2021 yang lalu saat dia juga masih warga disana.

“Benar pak, saya ada melakukan jual beli tanah sawit, sebagai hibah mertua saya kepada suami saya, sudah meninggal dunia. Yang luas kebun itu, kurang lebih setengah hektarlah adanya itu dijual mertuaku sama Rajali Siregar. Jadi, mertua, dan Rajali Siregar, itunya kesana mengukur, dan melihat, bersama Kadus dan Saksi-saksi tapal batas. Kalu saya pak dalam hal ini, hanya tinggal tanda tangani aja sebagai atas nama penjual. Dan itu tanah tak memiliki silang sengketa. Sebab, suratnya itu ditanda tangani camat, jauh sebelum Camat Sekarang ini pak. Dan bukti alashak tanah itu, ada sama mertua di Sibito.” Jelasnya.

Triana Susianti menambahkan penjelasannya, bahwa tanah tersebut sangat banyak yang meminati untuk membelinya, bahkan ada yang membuat harga diatas penawaran mertuanya dari 85jutaan-100jutaan. Tapi mertua tidak mau menjual kepada orang lain selain kepada keluarga yang ada berbatasan langsung dengan kebun sawit yang mau dijual tersebut.

“Dulu sangat banyak meminati ini kebun kami ini. Bahkan memberikan harga mahal pun mereka mau. Termasuklah disini adik ipar Kepala Desa Rombisan, Si Mual Pardomuan, adek kades ini sudah sering meminta sama aku, tak kukasihlah pulak. Karena, mertuaku berpesan jangan dijual ini kobun sawit ke orang lain, kalau mau dijual kesaudara, posan martua. Dan Si Rajali Siregar ini, saudara dokat kami, makanya kesitulah dijual.”Tambahnya.

Melihat hal ini, wartawan mengkonfirmasi Kepala Desa Rombisan, Rijal Sipahutar, melalui telepon seluler, dia mengatakan tidak menahan itu dokumen surat jual beli warganya.

Namun, dia menjelaskan bahwa surat tersebut ada sedikit yang harus diperbaiki dan diperbaharui terkait masalah batas-batas tanah.

“Bukan menahan pak. Namun, ada hal dalam surat jual beli mereka itu harus diperbaiki. Sebab, dimasalah batas-batas tanahnya yang tidak ada berbatasan dengan jalan warga disana. Karena, dari jalan besar Desa Rombisan itu, ada simpang jalan masuk didekat kebun sawit itu. Didalam surat jual beli yang dibuat mereka itu tidak ada batas jalan itu, hanya 1 berbatas jalan, yaitu jalan besar.” Jelas Kades Rombisan

Lanjut, Kades Rombisan, Rijal Sipahutar, menyampaikan bahwa, batas-batas tanah tersebutlah yang tidak sesuai. Karena, melalui jalan tersebut kedalam dari jalan besar melalui sawit itu, ada 6-7 Kepala rumah tangga didalam. Inilah yang menjadi perhitungan, bagaimana akses warga disana, kalau jalan mereka tidak terlihat dalam SKT dia, Rajali Siregar, yang mana tidak ada menerangkan ada tapal batas tanahnya yang berbatas dengan jalan tersebut.

“Saya bilangnya Kepada warga tersebut, yang membeli tanah. Bahwa surat itu tidak akan saya tanda tangani sebelum diperbaiki masalah tapal-tapal batasnya itu, yang tidak ada terlihat disana jalan, bahkan langsung berbatas kebun PT. Sirata-rata langsung. Sebab, dari dulu saya mulai Kades, itu jalan warga disana sudah ada.”Tegasnya

Melihat dikemudian hari nanti. Andainya saya tanda tangani SKTnya itu, tiba-tiba sepemilik lahan memalang dan tidak memberikan jalan terhadap warga yang ada disana, siapa yang salah, pastilah Kepala Desa yang tidak faham dan mengerti.

“Kusanksikan nati, kalaulah itu surat kutanda tangani. Tidak terlihat ada jalan disana, macam mana warga disana pulak apabila dia tutup gak bisa jalan dari sana. Maka yang salah dan bodoh pasti kepala Desanya kan. Dan, kalaupun tak mau dia untuk memperbaiki akan kukembalikan sore ini.”Tutupnya (mtr24su/tt)