banner 728x90
Berita  

Jabidi Ritonga hadiri Diklatsar Banser PAC GP Ansor Babalan Langkat

Langkat,Metro24sumut.com|Nahdatul Ulama (NU) sering disebut sebagai Islam tradisionalis. Disebut demikian karena NU teridentifikasi mengembangkan ajaran Islam yang bersahabat dengan tradisi-tradisi lokal kemasyarakatan.

Suasana Diklatsar Banser Babalan Langkat

Hal tersebut berlangsung sejak Islam kali pertama menginjakkan kaki di Nusantara lebih dari seribu tahun lalu. Selama perkembangan itu, Islam berproses secara tradisional bersama masyarakat lokal dan nyaris tanpa masalah, disampaikan pada pembujaan DIklatsar Banser PAC GP Ansor Balalan di Pondok Pesantren Darul Ilmi Yayasan Darul Yatama

Setidaknya tak ada catatan sejarah yang menyebutkan adanya bentrok antara Islam tradisionalis  versus adat lokal

ada 1926 NU didirikan. Tujuan utamanya mempertahankan dan mengembangkan paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah yang selama ini telah diterima dan berkembang baik di Indonesia.

Yang dimaksudkan Islam Ahlussunnah wal-Jamaah adalah “golongan yang mengikuti ajaran Islam seperti yang diajarkan dan diamalkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Kata H. A. Jabidi Ritonga dalam sambutannya sebagai waksekjend PP GP Ansor,  Mengapa GP Ansor terus melakukan kaderisasi, untuk menjawab Tantangan Bangsa kedepan serta kader NU  Gerakan Pemuda (GP) Ansor bukan saja sebagai underbow NU, juga bukan sekadar badan otonom yang memiliki kewenangan organisasi sendiri. Ia adalah organisasi pemuda NU yang merupakan wajah NU masa depan. Ia, dibantu Barisan Ansor Serbaguna (Banser), menjadi pertaruhan masa depan NU, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan segala dinamikanya

Karena tantangan NU di masa depan semakin berat, GP Ansor saat ini harus mampu menciptakan dan melahirkan calon-calon pemimpin tangguh untuk masa mendatang. Rotasi dalam organisasi adalah sebuah kebutuhan.

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia lima tahun mendatang. Pertama munculnya generasi baru, kedua digitalisasi segala aspek kehidupan, dan ketiga tren intoleransi dan radikalisme. Munculnya generasi baru sekarang

Membeludaknya penduduk muda merupakan potensi sekaligus ancaman. Potensi karena mereka adalah sumber daya manusia (SDM) yang sedang dalam masa produktif untuk menopang pembangunan. Ancaman apabila mereka tidak dikelola dengan baik

Untuk menjadi Kader GP Ansor dan Banser tidak mudah, ada tahapan yang harus dilewati, memiliki berbagai level kaderisasi formal. Dimulai dari tingkatan terbawah, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), lalu Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan ditutup dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN). Sistem sejenis juga dilaksanakan untuk Banser, melalui Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar), lalu Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), dan ditutup dengan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim).

Jabidi Ritonga hadiri Diklatsar Banser PAC GP Ansor Babalan Langkat

Nahdatul Ulama (NU) sering disebut sebagai Islam tradisionalis. Disebut demikian karena NU teridentifikasi mengembangkan ajaran Islam yang bersahabat dengan tradisi-tradisi lokal kemasyarakatan.

Hal tersebut berlangsung sejak Islam kali pertama menginjakkan kaki di Nusantara lebih dari seribu tahun lalu. Selama perkembangan itu, Islam berproses secara tradisional bersama masyarakat lokal dan nyaris tanpa masalah, disampaikan pada pembujaan DIklatsar Banser PAC GP Ansor Balalan di Pondok Pesantren Darul Ilmi Yayasan Darul Yatama

Setidaknya tak ada catatan sejarah yang menyebutkan adanya bentrok antara Islam tradisionalis versus adat lokal

Pada 1926 NU didirikan. Tujuan utamanya mempertahankan dan mengembangkan paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah yang selama ini telah diterima dan berkembang baik di Indonesia.

Yang dimaksudkan Islam Ahlussunnah wal-Jamaah adalah “golongan yang mengikuti ajaran Islam seperti yang diajarkan dan diamalkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Kata H. A. Jabidi Ritonga dalam sambutannya sebagai waksekjend PP GP Ansor, Mengapa GP Ansor terus melakukan kaderisasi, untuk menjawab Tantangan Bangsa kedepan serta kader NU Gerakan Pemuda (GP) Ansor bukan saja sebagai underbow NU, juga bukan sekadar badan otonom yang memiliki kewenangan organisasi sendiri. Ia adalah organisasi pemuda NU yang merupakan wajah NU masa depan. Ia, dibantu Barisan Ansor Serbaguna (Banser), menjadi pertaruhan masa depan NU, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan segala dinamikanya

Karena tantangan NU di masa depan semakin berat, GP Ansor saat ini harus mampu menciptakan dan melahirkan calon-calon pemimpin tangguh untuk masa mendatang. Rotasi dalam organisasi adalah sebuah kebutuhan.

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia lima tahun mendatang. Pertama munculnya generasi baru, kedua digitalisasi segala aspek kehidupan, dan ketiga tren intoleransi dan radikalisme. Munculnya generasi baru sekarang

Membeludaknya penduduk muda merupakan potensi sekaligus ancaman. Potensi karena mereka adalah sumber daya manusia (SDM) yang sedang dalam masa produktif untuk menopang pembangunan. Ancaman apabila mereka tidak dikelola dengan baik

Untuk menjadi Kader GP Ansor dan Banser tidak mudah, ada tahapan yang harus dilewati, memiliki berbagai level kaderisasi formal. Dimulai dari tingkatan terbawah, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), lalu Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan ditutup dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN). Sistem sejenis juga dilaksanakan untuk Banser, melalui Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar), lalu Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), dan ditutup dengan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim).(red)

Mau punya Media Online sendiri?
Tapi gak tau cara buatnya?
Humm, tenang , ada Ar Media Kreatif , 
Jasa pembuatan website berita (media online)
Sejak tahun 2018, sudah ratusan Media Online 
yang dibuat tersebar diberbagai daerah seluruh Indonesia.
Info dan Konsultasi - Kontak 
@Website ini adalah klien Ar Media Kreatif disupport 
dan didukung penuh oleh Ar Media Kreatif